Berita (7) Buku Saya (3) Cerpen (31) Download Novel (2) lain-lain (1) Musik (7) Puisi (39)

Translate

Rabu, 11 April 2012

Setan Alas


                                          Kutumpahkan rindu dari segelas galau
                                          Mulutku komat-kamit meracaukan sebuah nama
                                          Setan alas, alas tikar dan ramuan empat sehat

Minggu, 08 April 2012

Pesan-pesan Tersirat (Based on True Story)



Penulis: M. Fadhillah
untuk sahabatku Alm. Ahsanul Yakin


Seorang sahabat memang begitu berarti. Terlebih jika Ia juga seorang yang selalu mengingatkan dikala kita salah, meneguhkan dikala kita goyah dan ikut menangis jika kita saat itu menangis sedih. Sahabat yang membersamai kita dalam mencari ridho Allah. Ia jauh lebih berarti dari sekadar setumpuk materi berharga sekalipun di dunia ini. Dan, akan sangat terasa kehilangan jika suatu saat ia pergi tanpa kabar berita. Walaupun meninggalkan kenangan manis yang sulit dilupa.

Sahabatku, seberapa banyak hari yang sudah kita lewat bersama. Berapa banyak canda tawa dan tangis kita tercatat dalam perjalanan hidup yang telah kita lalui. Aku dan kau adalah hamba-hamba Allah yang InsyaAllah ridho pada TakdirNya. Dan Allah menakdirkan engkau untuk menghadap-Nya lebih awal. Dan walau kau tak pernah menyebutnya secara tersurat pada kami, aku tahu kau telah ridho pada keputusan itu. Kami disini pun begitu. Demi Allah kami telah ridho atas kepergianmu. Allah Maha Mengetahui dan Allah tak akan pernah mendzalimi hambanya.

Kamis, 05 April 2012

The Raid


Seperti biasa aku lebih memilih menonton film di bioskop sendirian. Lebih bebas dan bisa nyelip, itu yang penting. Waktu itu, The Raid termasuk film yang ramai dibicarakan, termasuk aku yang membicarakannya bersama dinding-dinding yang membisu, sehingga membuat rasa penasaran ini memuncak sampai ke ubun-ubun. Hal tersebut membuat rasional menjadi hilang. Aku datang jam sepuluh tepat saat sekuriti sedang bersiap-siap bertugas—dia sedang memperbaiki sisiran rambutnya saat itu.

Nanti penontonnya pasti berjubel. Tapi semua itu tak masalah karena aku sudah datang di awal-awal—dua jam sebelum bioskop buka—dan aku datang sendiri sehingga tak perlu takut jika sewaktu-waktu aku lupa tujuanku yang sebenarnya nanti adalah nonton The Raid. Maklumlah, baju-celana-jaket-sepatu diskon 75% bisa membuat kalap siapa saja. Kalau ternyata nanti aku sampai lupa waktu dengan kekalapan yang sudah tak tertolong, dan menyebabkan aku terlambat memesan karcis, dan bangku-bangku strategis sudah terpenuhi dengan pasangan-pasangan baru jadian, datang sendiri adalah pilihan yang sangat tepat. Aku bisa nyelip di antara mereka. Namun, itulah awal mula penderitaan batin yang membuat siapa saja ingin memberi uang receh melihat wajahku yang memelas.

Tibalah saatnya aku memesan tiket. Benar saja, diskon besar-besaran yang kutemukan membuatku kalap—hanya kalap melihat-lihat harga yang murah tanpa membeli. Studio satu sudah ramai penonton. Hanya tinggal satu saja bangku yang strategis. Tepat berada di tengah-tengah. Apa aku bilang tadi. Itulah salah satu bentuk kecerdasanku dibalik kemirisan hidupku yang hanya mampu nonton film bioskop sendiri—tanpa pasangan.

My Dear


                      My Dear,
                      Aku berada di seperempat abad tanpa dirimu
                      Di manakah lagi aku mencarimu karena raga dan hatiku telah lelah bersandiwara
                      Seringkali aku terlihat berbicara pada karpet-karpet yang kuinjak
                      Atau mungkin merekalah yang menyuruhmu menjauh karena dendam padaku?

                      My Dear,
                      Perkenankan aku berpidato tiga kata sebanyak tiga kali
                      ‘Aku cinta kamu’
                      ‘Aku cinta kamu’
                      ‘Aku cinta kamu’
                      Maka datanglah sebelum senyumku semakin memudar dan menekuk tanpa arah

Selasa, 03 April 2012

Di Peluk Cinta



Kepada bait yang bersenyawa hujan
Tolong hadirkan cahaya dipeluouk awan
Jangan biarkan gelap terlalu mendera
Sebab tuan putri tak henti merana

Dia butuh penangkal muram angkara
Dari raja durjana yang murka
Aku hanya manusia bernyawa biasa
Berkendara kuda putih kurang sempurna