Seperti biasa aku lebih memilih menonton film di bioskop sendirian. Lebih bebas dan bisa nyelip, itu yang penting. Waktu itu, The Raid termasuk film yang ramai dibicarakan, termasuk aku yang membicarakannya bersama dinding-dinding yang membisu, sehingga membuat rasa penasaran ini memuncak sampai ke ubun-ubun. Hal tersebut membuat rasional menjadi hilang. Aku datang jam sepuluh tepat saat sekuriti sedang bersiap-siap bertugas—dia sedang memperbaiki sisiran rambutnya saat itu.
Nanti penontonnya pasti berjubel. Tapi semua itu tak masalah karena aku sudah datang di awal-awal—dua jam sebelum bioskop buka—dan aku datang sendiri sehingga tak perlu takut jika sewaktu-waktu aku lupa tujuanku yang sebenarnya nanti adalah nonton The Raid. Maklumlah, baju-celana-jaket-sepatu diskon 75% bisa membuat kalap siapa saja. Kalau ternyata nanti aku sampai lupa waktu dengan kekalapan yang sudah tak tertolong, dan menyebabkan aku terlambat memesan karcis, dan bangku-bangku strategis sudah terpenuhi dengan pasangan-pasangan baru jadian, datang sendiri adalah pilihan yang sangat tepat. Aku bisa nyelip di antara mereka. Namun, itulah awal mula penderitaan batin yang membuat siapa saja ingin memberi uang receh melihat wajahku yang memelas.
Tibalah saatnya aku memesan tiket. Benar saja, diskon besar-besaran yang kutemukan membuatku kalap—hanya kalap melihat-lihat harga yang murah tanpa membeli. Studio satu sudah ramai penonton. Hanya tinggal satu saja bangku yang strategis. Tepat berada di tengah-tengah. Apa aku bilang tadi. Itulah salah satu bentuk kecerdasanku dibalik kemirisan hidupku yang hanya mampu nonton film bioskop sendiri—tanpa pasangan.