Berita (7) Buku Saya (3) Cerpen (31) Download Novel (2) lain-lain (1) Musik (7) Puisi (39)

Translate

Rabu, 08 Februari 2012

Tiket


ADIKKU YANG TENGAH SUDAH PULANG KE KAMPUNG, katanya mengambil data yang kurang untuk skripsinya. Beruntung jika mendapatkan tiket murah menjelang Imlek. Banyak orang Cina yang pulang kampung ke sana membuat harga tiket melambung tinggi. Katanya mulai tiga hari ke depan.
Aku tak ambil pusing, sebetulnya. Memang liburan ini lumayan panjang dan aku sudah lama tidak pulang. Dalam hati kecilku, tetap ada pikiran ingin pulang. Tapi aku sudah terlanjur janji untuk tidak pulang sebelum aku lulus kuliah pada ayah. Janji itu kupegang terus sehingga membuatku terus bersemangat untuk kuliah, meskipun di kala bosan, aku hampir mati dibuatnya.
Seharusnya, setua aku ini, seperempat abad ini, seperti yang lain-lainnya, teman-teman seangkatanku yang sudah tersenyum di setiap hari-harinya, sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Memang, aku sudah pernah menghasilkan uang sendiri dan itu semua aku nikmati sendiri. Untuk mereka yang membesarkanku? Hanya sesekali saja kubelikan pakaian saat lebaran dua dan tiga tahun yang lalu. Ayah juga sering bilang padaku bahwa gajimu adalah milikmu seutuhnya. Ya, dan aku pun bebas menggunakannya sesukaku.

Keistimewaan Bintang


Malam ini mari kita coba untuk menatap bintang
Meresapi indahnya sedalam-dalamnya perasaan kita

Muara Sungai Linggang


Sungai Linggang[1] yang kutelusuri, adalah sepanjang rasaku ingin mengetahui di manakah muaranya
Apakah raut wajahmu berubah ketika itu, saat raja-raja masa lalu tiba-tiba datang menghantarkan sejuta bunga keremunting[2] yang sedang mekar? Warnanya merah jambu menawan. Dan aku berdiri tepat di atas pintu air, memandangmu berharap

Abang di sini Membawa Cinta


Wahai seroja di taman hati
Kumbang haus nelangsa di tepi
Adalah rona yang menjentik sepi
Biar kutemani sepanjang hari

Melalui Baris Kata


Melalui baris kata, kuselipkan namamu
Di situ beratus-ratus rindu berkelana mengiringi nafas-nafas yang berserakan
Segalanya aku ingin tahu, pukul berapa bidadari mengetuk pintu
Bahwasanya hujan sore tadi, aku belum menemukan air tergenang
Mungkin gayung yang menadahnya besar segajah

Melalui baris kata, cinta menyelinap sendiri
Aroma mawar yang kau cium pada halaman rumahmu, adalah tubuhku yang tadi hendak kau kesampingkan di pelupuk mata jangkrik samping rumah, di bawah pohon Filicium
Bayanganku masih melekat di tanah pada pukul empat, dan semakin panjang, kemudian dipeluk malam
Aku tak asal bicara, meratap, atau bergumam
Memang sampai sekarang masih tak tahu, sudah sampaikah cinta yang sudah dua belas jam yang lalu?
Tentu belum basi dan kuperkirakan sampai tahun depan dan berikut-berikutnya
Di malam yang seluas otak kita ingin berpikir,
Kamu duduk manis di tepi jendela, di bawah wajah bulan
Tak menyangka, ternyata cinta yang menyelinap itu kau genggam
Pada saat aku lewat dan aku menoleh, kau buka hatimu
Lalu memasukkan cinta itu
Lalu dikunci rapat
Kuncinya kau telan lewat baris kata puitis